Menu

TQN PP.Suryalaya

 

Fatwa Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili:
Soal Karamah yang dilimpahkan oleh Allah kepada para auliya’ seringkali ditentang oleh mereka yang anti dunia sufi. Mereka menganggap Karamah itu seperti sihir, bahkan termasuk kategori khurafat dan zindiq. Padahal Karamah adalah bentuk lain dari sesuatu yang luar biasa, jika itu turun kepada Nabi dan Rasul disebut Mu’jizat, tetapi karena diturunkan kepada para wali maka disebut Karamah.

Pada era terakhir ini muncul di berbagai media massa sejumlah iklan yang menonjolkan istilah Karamah, misalnya, Ilmu Karomah, Kadigdayan Karamah, Karamah Sejati, dan sebagainya. Sebenarnya, istilah yang disebarluaskan dalam iklan tersebut sama sekali bukan masuk dalam istilah Karamah para sufi atau para wali. Karena itu perlu ekstra hati-hati untuk melihat dan memandang apakah keluarbiasaan seseorang itu bersifat Karamah atau sekadar Ilmu Jin, atau Ilmu Hikmah. Semuanya berbeda, walau pun punya kemiripan.
Banyak sekali kisah al-Qur’an yang mengilustrasikan Karamah itu sendiri. Misalnya kisah-kisah Maryam, Ibunda Nabiyullah Isa as, seperti dalam surat ali Imran 37: “Maka Tuhannya menerima (nazarnya) dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikannya yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa terhitung.”

Pada surat lain, misalnya Maryam 25 disebutkan, “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”
*Sementara itu dalam hadits Nabi, soal Karamah itu juga dijelaskan, misalnya, riwayat Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda: “Tak ada bayi yang bicara kecuali tiga bayi: Isa bin Maryam, seorang bayi di zaman Juraij dan seorang lainnya….dst.” Juga kisah Ashabul Kahfi.
Sedangkan Amirul Mu’minin ra pernah berucap, “Wahai pasukan! Awas bukit…awas bukit…!” diucapkan di tengah-tengah Umar bin Khaththab sedang berkhutbah jum’at. Suara Umar ketika itu didengar oleh pasukan yang sedang bertempur sengit di medan laga saat itu.

Proses-proses munculnya Karamah adalah sebagaimana munculnya Mu’jizat. Bisa muncul karena doa seseorang, bisa karena muncul tiba-tiba secara luar biasa. Namun, hakikatnya Karamah itu, bukan saja sesuatu yang muncul dengan kedahsyatan. Seseorang bisa menahan kesabarannya, ketika harus marah besar, bisa disebut sebagai Karamah Allah atas orang itu.
Kebajikan-kebajikan dan barakah-barakah para sufi terhadap para pengikutnya juga bisa disebut Karamah. Namun munculnya Karamah itu bukan atas usaha seseorang yang disertai ilmu-ilmu tertentu atau dzikir tertentu supaya Karamah bisa datang. Dan ciri-ciri orang yang punya Karamah itu tentu berbeda dengan orang yang punya ilmu hikmah. Kalau Karamah mesti tumbuh dari para sufi, sementara ilmu hikmah muncul dari kalangan ahli hikmah, yaitu mereka yang menguasai ilmu-ilmu tertentu yang bisa mendatangkan keluarbiasaan. Derajatnya pasti jauh, dan Karamah berada di tempat yang sangat luhur.

Tetapi di dalam perjalanan sufi menuju kepada Allah, seseorang dilarang mencari Karamah. “Uthlubil istiqamah walaa tahlubil Karamah.” (Carilah istiqamah, dan jangan mencari Karamah). Karena hakikat Karamah itu adalah istiqamah itu sendiri. Orang yang bisa istiqamah akan mendapatkan Karamah, tetapi orang yang mencari Karamah belum tentu dapat Karamah sekaligus juga belum tentu bisa istiqamah. 
Istiqomah lebih indah daripada seribu karomah...

(dari berbagai sumber)

Posting Komentar

 
Top