Menu

TQN PP.Suryalaya

 


Berbahagialah ketika seseorang mati dosanya juga ikut mati. 
Ada yang mengatakan, dosa yang lebih besar, adalah dosa orang menzholimi orang lain, yang tidak dikenalnya.
Taubat dan Dzikirullah dapat mengikis dosa.
Siapa yang taat kepada Allah, maka segala sesuatu ini akan tunduk kepadanya. Siapa yang maksiat kepada Allah, segala sesuatu akan menundukan dirinya, dan segalanya akan menjadi beban bagi dirinya. Jika bukan karena gelimang dosa melainkan setiap yang menimpanya sebagai siksa, baik dalam keadaan bebas maupun sempit, sehat maupun sakit tentulah cukup kiranya. Jika bukan karena meninggalkan maksiat, kecuali dengan kontra terhadap maksiat itu, pastilah sudah mencukupi. Seorang hamba akan terhalang rezekinya karena dosa yang menimpanya.


Bukan laknat itu terekpresi pada wajah hitam atau harta yang berkurang, namun laknat adalah ketika seorang hamba tidak bias keluar dari kubangan dosa, atau sepadannya bahkan lebih buruk lagi.

Janganlah tobat itu menjadi perbuatan lebih lemah pada anda, ketika anda berbuat dosa. Sepanjang tobat mengingkari perubahan zaman, warna-warni, istri-istri, maka dosa selalu mewariskan semua itu, bahkan dosa bisa muncul karena sinis terhadap penciptaan binatang, tikus rumah, kealpaan membaca Al-Qur’an, atau sesuatu dari ilmu, atau menukil bacaannya dari orang-orang merdeka. Sangsi dosa itu, dikondisikan bagi kepedihan dan penderitaan. Siksaan masing-masing tergantung sejauh mana kemusyrikan menimpanya, bahkan dalam impian sekalipun. Terkadang siksaan suatu dosa merupakan dosa sepadannya, manakala dosa itu membesar, sebagaimana dalam pahala taat.

Dan tiada daya dan kekuatan, kecuali hanya Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung.

(Dari status Agus Sayap Merpati di facebook pemuda tqn suryalaya)
Sumber bacaan: Raudhathu thalibin wa Umdatus Saalikien Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali.

Posting Komentar

 
Top