Menu

TQN PP.Suryalaya

 

Seorang yang kerja di jalan yang halal akan menuai berkah.

    Al-Habib , seorang  yang  dikasihi  oleh banyak orang  dan  senantiasa didambakan kemuliaan  hatinya, malam  itu  mengimami  sholat   isya suatu  jamaah yang terdiri  dari para  pejabat  negara  dan  pemuka masyarakat.
     Berbeda  dengan  adatnya, sesudah tahiyyat  akhir   diakhiri  dengan salam,  Al-Habib langsung  membalikan  tubuhnya, menghadapkan  wajahnya kepada  para  jamaah  dan menyorotkan  matanya  tajam-tajam.
     "Salah  seorang  dari kalian  keluarlah   sejenak  dari  ruang  ini,  " katanya, "Di halaman  depan  sedang  berdiri seorang  penjual   kacang  godok. Keluarkan  sebagian  dari uang  kalian,  belilah  barang   beberapa bungkus." Beberapa  orang langsung  berdiri  dan   berlari  keluar, dan  kembali ke  ruangan  beberapa  saat  kemudian.
     "Makanlah  kalian  semua,"  lanjut   Al-Habib, "Makanlah  biji-biji kacang itu,  yang  diciptakan oleh  Alloh dengan kemuliaan  ,  yang dijual  oleh  kemuliaan dan  dibeli oleh  kemuliaan." Para  jamaah  tak  begitu  memahami kata-kata Al-habib,sehingga  sambil  menguliti    dan memakan  kacang,  wajah  mereka  tampak  kosong.
     "Setiap  penerimaan  dan  pengeluaran   uang,"  kata  Al-Habib, "hendaklah  dipertimbangkan  berdasarkan  nilai kemuliaan.Bagaimana  mencari  uang,  bagaimana  sifat proses  datangnya  uang  ke saku  kalian,  untuk  apa dan kepada siapa  uang itu  dibelanjakan  atau  diberikan, akan menjadi ibadah  yang  tinggi  derajatnya  apabila diberangkatkan  dari  perhitungan untuk  memperoleh kemuliaan."  "Tetapi  ya  Habib,"  seorang   bertanya, "apa  hubungan  antara  kita  beli kacang  malam  ini dengan kemuliaan?" Al-habib menjawab,  "Penjual  kacang itu bekerja  sampai larut  malam  atau  bahkan  sampai menjelang  pagi.Ia  menyusuri jalanan, menembus  gang-gang  kota dan kampung-kampung.Di  malam hari pada umumnya orang tidur,  tetapi penjual  kacang itu amat  yakin  bahwa Alloh  membagi  rejeki  bahkan  kepada seekor nyamuk pun.Itu  taqwa  namanya.  Berbeda  dari  sebagian  kalian yang sering  tak yakin akan  kemurahan  Alloh,  sehingga cemas dan untuk  menghilangkan  kecemasan  hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat  atasan  serta bersedia  melakukan dosa apa  pun saja  asal  mendatangkan uang." Suasana  menjadi hening.Para jamaah  menundukkan   kepala dalam-dalam. Dan  Al-Habib  meneruskan, "Istri dan anak penjual  kacang  itu  menunggu  di  rumah,  menunggu   dua atau tiga  ribu  rupiah  hasil  kerja  semalaman. Mereka ikhlas dalam  keadaan  itu. Penjual  kacang  itu  tidak  mencuri atau  memperoleh uang  secara  jalan pintas  lainnya. Kalau ia punya situasi mental  mencuri,  tidaklah  ia  akan  tahan berjam-jam  berjualan."  
     "Punyakah  kalian  ketahanan  mental   setinggi itu?" Al-Habib bertanya,  "Lebih  muliakah  kalian  dibanding  penjual kacang  itu, atau  ia  lebih  mulia  dari  kalian?  Lebih  rendahkah derajat  penjual kacang  itu  dibanding  kalian,  atau  di   mata  Alloh ia lebih  tinggi  maqom-nya  dari  kalian?  Kalau demikian, kenapa  di hati  kalian selalu  ada  perasaan  dan   anggapan bahwa seorang  penjual  kacang  adalah  orang  rendah  dan   orang kecil?"
     Dan  ketika  akhirnya Al-Habib  mengatakan,   "Mahamulia  Alloh  yang menciptakan  kacang, sangat  mulia  si penjual  kacang itu dalam  pekerjaannya,  serta  mulia  pulalah  kalian yang  membeli  kacang  berdasar  makrifat  terhadap   kemuliaan....".
      Salah   seorang  berteriak,  melompat dan memeluk  tubuh  Al -Habib  erat-erat. 

     Diposting ulang oleh Dokumen Pemuda TQN Suryalaya

   Sumber  dari : Emha  Ainun  Nadjib, Buku: Seribu  masjid  Satu  jumlahnya,Tahajjud  cinta  seorang hamba Penerbit  Mizan  1995 (soni69.tripod.com)

Posting Komentar

Anonim mengatakan... 30 Agustus 2012 pukul 16.29

Untuk mencari rejeki yang tidak halal banyak cara dan jalan yang bisa ditempuh. Peluang dan kesempatan sangat terbuka. Tak heran, banyak orang yang tergiur mendapatkannya tanpa melihat bahwa itu sebenarnya tidak dibenarkan oleh agama. Sementara tak sedikit juga mereka yang mencari rejeki dengan susah payah hingga larut malam untuk mendapatkan yang halal dan barokah dari Allah. Manusia tinggal mau memilih yang mana, semua ada dan tersedia.

Unknown mengatakan... 31 Agustus 2012 pukul 00.48

@halamanputih: subhanalloh bener sekali kang....sukron atas komennya kang

 
Top