Menu

TQN PP.Suryalaya

 

MENGENAI:

Kalimat Thayyibah, Shalawat Nabi, Makna Shalawat, Makna Taslim (ucapan salam),Hukum Shalawat,Keutamaan Shalawat,Peringatan Terhadap Orang yang Meninggalkan Shalawat Secara Sengaja,Bentuk Shalawat ,Waktu-waktu yang Disunnahkan untuk Mengucapkan Shalawat,Buah Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Sesungguhnya Shalawat terhadap Nabi memiliki kedudukan yang tinggi di dalam hati setiap muslim, oleh sebab itu, kami akan membahas dengan ringkas tentang hukum-hukum seputar Shalawat terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dengan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kami berkata,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيم ﴾ [الأحزاب: 56].
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah dengan penuh penghormatan.”(QS. Al-Ahzab: 56)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:”Maksud dari ayat ini adalah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya, tentang kedudukan hamba dan Nabi-Nya di sisi-Nya dan di sisi para makhluk yang tinggi (Malaikat). Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji beliau di hadapan para Malaikatnya, dan para Malaikat pun bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan penduduk bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, supaya terkumpul pujian terhadap beliau dari peghuni dua alam, alam atas (langit) dan alam bawah (bumi) secara bersama-sama.”(Tasir Ibnu Katsir Jilid 3 hal 514)
Faidah Penting: Kenapa orang-orang yang beriman dikhususkan dengan taslim (ucapan salam) kepada Nabi, sedangakan Allah dan para Malaikat tidak?
Jawab: Karena (hakekat) salam adalah memberikan keselamatan kepada Nabi dari apa-apa yang menyakiti beliau, maka ketika ayat ini datang setelah penyebutan tentang apa-apa yang menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu firman-Nya:
﴿ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَداً إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيم ﴾ [الأحزاب:53]
”Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah itu (setelah Nabi wafat). Sesunguhnya yang demikian itu sangat besar dosanya di sisi Allah.”(QS. Al-Ahzab:53)
Dan sesuatu yang menyakiti hanyalah muncul dari manusia, maka tepat sekali mengkhususukan manusia dan menekankannya dengan taslim (ucapan salam).”(al-Futuhat al-Ilahiyah oleh al-‘Ujailiy jilid 4 hal 454)
Makna Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Abu ‘Aliyah rahimahullah berkata:”Shalawat Allah atas Nabi adalah pujian-Nya kepada beliau di hadapan para Malaikat-Nya, shalawat Malaikat kepada beliau adalah do’a (maksudnya: bahwa para Malaikat memohon kepada Allah tambahan dari pujian Allah kepada Nabi).”
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:” يصلون/mereka bershalawat, maksudnya adalah mereka mendoakan untuk beliau keberkahan.” (Shahih al-Bukhari Kitab Tafsir bab:10)
Al-Haliimiy rahimahullah bekata:”Makna shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pengagungannya. Dan maka ucapan kita Allahumma shalli ‘ala Muhammad:”Ya Allah agungkanlah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Ibnu Hajar rahimahullah rahimahullah berkata:”Maksudnya adalah pengagungan terhadap beliau di Dunia dengan cara meninggikan nama beliau, menampakkan (memenangkan ) agama beliau, dan melanggengkan Syari’atnya. Dan di Akherat dengan cara memperbesar ganjaran (balasan amal) beliau, memberikan beliau hak untuk memberi syafa’at untuk umatnya, dan menunjukkan keutamaan beliau dengan Maqam al-Mahmud (kedudukan yang terpuji).”(Fathul Bari)
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:”Makna shalawat Allah atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pujian-Nya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan penjagaan-Nya terhadap beliau, penampakkan kemuliaan, keutamaan dan kehormatan beliau. Dan shalawat kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, kita memohon kepada Allah tambahan di dalam pujian-Nya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan penampakkan kemuliaan, keutamaan dan kehormatan beliau serta kedekatan beliau kepada Allah.” (Jalaa’ul Afhaam, hal 261-262)
Makna Taslim (ucapan salam) Kepada Beliau
Taslim artinya as-Salaam, yang itu adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan makna taslim yang lain adalah:”Engkau tidak pernah terlepas wahai Muhammad dari kebaikan dan berkah, dan engkau selamat dari sesgala sesuatu yang idak menyenangkandan penyakit serta cacat.”Maka ketika kita berkata: “Allahumma sallim ‘ala Muhammad, maka maksudnya adalah:”Ya Allah tulislah bagi Muhammad di dalam dakwahnya, umatnya, dan namanya keselamatan dari segala kekurangan (aib/cacat), tambahkanlah seiring berjalannya waktu ketinggian beliau dan (tambahkanlah) jumlah umat beliau, dan nama beliau semakin terangkat.”(Fadhlu as-Shalat ‘ala Nabi, oleh Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah hal 88)Hukum Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Shalawat terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wajib atas setiap muslim, baligh (dewasa menurut kacamata agama) dan berakal, sekali seumur hidup. Adapun selain itu (slain shalawat yang sekali) adalah sunnah yang dianjurkan. (asy-Syifaa, oleh al-Qadhi ‘Iyadh jilid 2 hal 62)
Keutamaan Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Banyak sekali hadits yang menjelaskan tentang keutamaan bershalawat kepada Nabi, dan kami akan menyebutkannya sebagian, di antaranya:
1.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan:
عن أبي هريرة أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: (من صلى عليَّ صلاة واحدة، صلى اللَّه عليه عشرًا ).[مسلم حديث 408]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungghnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Siapa saja yang bershalawat kepadaku satu shalawat, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh.” (Muslim hadits no.408)
2.Imam an-Nasaai rahimahullah meriwayatkan:
عن أنس أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: ( من صلى عليَّ صلاة واحدة،صلى اللَّه عليه عشر صلوات، وحُطت عنه عشر خطيئات، ورُفعت له عشر درجات ).[حديث صحيح: صحيح النسائي للألباني جـ1ص415]
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Siapa saja yang bershalawat kepadaku satu shalawat, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh shalawatdan dihilangkan darinya sepuluh kesalahan dan dinaikkan untuknya sepuluh serajat.”(Hadits shahih: Shahih an-Nasaai oleh al-Albani rahimahullah jilid 1 hal:415 )
3.Imam Nasaai rahimahullah juga meriwayatkan:
عن ابن مسعود أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: ( إن للَّه ملائكة سياحين في الأرض يبلغوني عن أمتي السلام ).[حديث صحيح: صحيح النسائي للألباني جـ1ص410]
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah memiliki Malaikat-malaikat yang berkeliling di muka bumi, untuk menyampaikan kepadaku salam dari umatku.”(Hadits shahih, Shahih Imam Nasaai oleh al-Albani rahimahullah jilid 1 hal: 410)
4. Imam ath-Thabrani rahimahullah meriwayatkan:
عن أبي الدرداء أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: ( من صلى عليَّ حين يصبح عشرًا وحين يُمسي عشرًا أدركته شفاعتي يوم القيامة ).[حديث حسن: صحيح الجامع للألباني حديث 6357]
Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Siapa saja yang bershalawat kepadaku sepuluh kali di waktu pagi dan sore, maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat.” (hadis hasan, Shahih al-Jami’ oleh al-Albani hadits no.6357)
Peringatan Terhadap Orang yang Meninggalkan Shalawat Secara Sengaja
Imam at-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
( رَغِمَ أنفُ رجل ذُكرتُ عنده فلم يصلِّ عليَّ ). [حديث صحيح: صحيح الترمذي حديث 2870]
“Terhinalah seseorang yang namaku disebut di sisinya, tetapi dia tidak bershalawat kepadaku.” (hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2870)
Beliau juga meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
( البخيل مَنْ ذُكِرْتُ عنده فلم يصلِّ عليَّ ). [حديث صحيح، صحيح الترمذي حديث 2811]
“Orang yang bakhil (kikir/pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.” (hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2811)
Beliau juga meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
( ما جلس قوم مجلسًا لم يذكروا اللَّه فيه، ولم يصلوا على نبيهم، إلا كان عليهم ترة (حسرة وندامة) فإن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم ).[حديث صحيح: صحيح الترمذي حديث 2691]
“Tidaklah suatu kaum duduk di sebuah majelis, yang mereka tidak menyebut nama Allah di dalamnya dan juga tidak bershalawat kepada Nabinya, kecuali hal itu menjadi kerugian dan penyesalan, maka kalau Allah menghendaki Dia akan mengadzabnya dan apabila menghedaki Dia akan mengampuni mereka.” (hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2691)

-Facebook Pemuda TQN Suryalaya, dari berbagai sumber.

Posting Komentar

 
Top