Sambungan dari bagian I
Syaikh Abul
qasim al Qusyairi berkata, “Saya pernah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq ra.
Berkata, ‘Tobat ada tiga
bagian, pertama tobat (kembali), kedua inabah (berulang-ulang
kembali), ketiga aubah (pulang). Tobat bersifat permulaan,
sedangkan aubah adalah akhir perjalanan.
Dan inabah tengah-tengahnya”.
Setiap orang
yang tobat karena takut siksaan, maka dia adalah pelaku tobat. Orang tobat
karena mengharapkan pahala adalah pelaku tobat yang mencapai
tingkatan inabah. Sedangkan orang tobat yang termotivasi oleh sikap
hati-hati dan ketelitian hatinya bukan karena mengharapkan pahala atau takut
pada siksa Allah, maka ia adalah pemilik aubah”.
Dikatakan pula
bahwa tobat adalah sifat orang-orang mukmin.
Allah berfirman
:
“Watuubuu
ilaLlaahi jamii’a ayyuhal Mukminuuna la’allakum tuflihuun” yang artinya,
“Dan bertaubatlah kamu sekallian kepada Allah wahai orang-orangyang beriman
agar engkau semua menjadi orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nuur 31)
Sedangkan inabah merupakan
sifat para Wali Allah atau orang-orang yang dekat dengan Allah sebagaimana yang
difirmankanNya :
“Man
khosyiyaRrohmaana bil ghoibi wa jaa-a biqolbim muniib” yang artinya ”
(Yaitu) orang-orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemuranh
sedang Dia tidak kelihatan, dan dia datang dengan hati yang
taubat”. (QS. Qaf 33)
Adapun Aubah adalah
sifat para Nabi dan Rasul .
“Ni’mal ‘Abdu
Innahul Awwaab” yang artinya, “Dialah (Nabi Ayyub as.) adalah sebaik-baik
hamba. Sesungguhnya Ia amat ta’at kepaad Tuhannya”. (QS. Shad 44)
Saya –Imam Al
Qusyairi ra- pernah mendengar Imam Al-Junaid berkata, “Tobat ada tiga
makna, penyesalankedua, tekad untuk meninggalkan apa yang dilarang
oleh Allah Ta’ala, ketiga berusaha memenuhi hak-hak orang yang pernah
dianiaya”.
Sahal bin
Abdullah mengatakan, “Tobat adalah meninggalkan penundaan (tidak mengulur waktu
dalam bertobat).
Imam Al-Junaid
pernah ditanya seseorang tentang tobat lalu dijawab, “Hendaknya kamu melupakan
dosamu”.
Oleh Abu Nashr
As-Siraj , dua pernyataan di atas dikomentari. Menurutnya bahwa Sahal dengan
pernyataannya menunjukkan beberapa keadaan orang-orang yang hendak bertobat
yang sesekali terhalangi proses tobatnya. Sedangkan Al-Junaid memaksudkan pada
tobat orang-orang yang sungguh-sungguh, yaitu ahli hakikat. Mereka ini ketika
bertobat tidak lagi mengingat dosa-dosanya karena kehadiran keagungan Tuhan dan
keberlangsungan dzikirnya kepadaNya yang senantiasa mendominasi hatinya.
Dzunun Al Mishri
pernah ditanya tentang tobat kemudian di jawab, “Tobat orang awam dikarenakan
dosa, sedang tobat orang khusus disebabkan karena lupa”. Ucapan yang
demikian dopertegas oleh An-Nuuri dengan pernyataannya bahwa tobat adalah
proses pelaksanaan tobat dari segala sesuatu selain Allah.
Abdullah
At-Tamimi mengatakan, “Ada yang membedakan antara orang yang tobat dari
kesalahan, bertobat darin kelupaan, dan bertobat dari memandang kebaikan yang
diperbuatnya”.
“tobat nasuha kata
Al-wasithi adalah, “Tidak akan meninggalkan bekas kemaksiyatan pada pemiliknya,
baik yang ersifat samar maupun yang jelas”.
“Tuhanku”, kata
Yahya bin Muadz, “saya tidak mengatakan bahwa saya tobat. Tidak juga mengulang
sesuatu yang saya ketahui dari akhlakku dan tidak menyimpan upaya meninggalkan
dosa terhadap sesuatu yang saya ketahui dari kelemahanku”. Sedangkan permohonan
ampun tanpa melepaskan dosa, menurut Dzun Nun Al-Mishri adalah tobatnya para
pendusta.
Al-Busyanji
pernah ditanya tentang tobat, lalu dijawab, “Jika kamu mengingat dosa kemudian
tidak merasakan manisnya ketika mengingatnya, maka demikian itu adalah taubat”.
Kemudian makna
ini lebih diperjelas oleh Dzun Nun Al-Mishri, “Hakikat taubat menjadikan kamu
keluasan bumi ini terasa sempit, sehingga tidak ada tempat menetap bagimu.
Kemudian jiwamu merasa sempit. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam
kitabNya yang Mulia :
“Hatta idzz
dhooqot ‘alaihimul ardhu bimaa rohubat wadhooqot ‘alaihim anfusuhum wadhonnuu
allaaa maljaa-a minaLlaahi illaa ilaih tsumma taaba ‘alaihim liyatuubuu
innalLaaha Huwattawwaaburrohiim”
Yang artinya,
“hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas
dan jiwa merekapun telah sempit (terasa) oleh mereka, dan mereka menyangka
(mengetahui) sesungguhnya tidak ada tempat lari dari siksa Allah melainkan
kepadaNya saja. Kemudian AllaH menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam
taubatnya. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha menerima taubat”. (QS. At
Taubah 118)
Ibnu Atha’
mengatakan, “Taubat ada dua, taubat inabah dan
taubat istajabah . Tobat inabah adalah taubat seorang
hamba yang takut akan siksaanNya. Sedangkan taubat istajabah adalah
merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaanNya”.
“Mengapa
seseorang yang menjalankan taubat membenci dunia ?” tanya seorang murid kepada
Abu Hafs.
“Karena dunia
tempat berlangsungnya perbuatan dosa”. Jawabnya.
“Bukankah udnia
merupakan tempat yang dimuliakan Allah yang di dalamnya taubat bisa
dilaksanakan ?” tanya seseorang menyela.
“Kenyataan dosa
di atasnya adalahsesuatu yang pasti. Sementara penerimaan taubat di dalamnya
masih bersifat mungkin” tegas Hafsh.
Karena itu tidak
semua taubat memiliki tingkat yang sama. Masing-masing memiliki
kwalitas dan derajat sendiri-sendiri. Taubat orang awam dan taubat orang khusus
berbeda, dan taubat orang awam dan taubat pendusta juga berbeda. Entang maslah
yang terakhir ini, sekelompok ulama’ sufi pernah menjelaskan bahwa taubat para
pendusta hanya terjadi di permukaan mulut saja. Artinya mereka melakukan taubat
hanya sebatas mengucapkan Istighfar, yaitu permohonan ampun kepada
Allah.
“Tidak ada
sesuatupun yang dimiliki seorang hamba dalam taubatnya” jelas Abu Hafs kepada
penanya, “karena taubat hanya untukNya, bukan dariNya”.
Allah pernah
memberikan wahyu kepada Nabi Adam AS tentang taubat, “Hai Adam” kata
Allah “egkau telah mewriskan anak cucumu kepayahan adn cobaan. Sedangkan Saya
mewariskan taubat untuk mereka. Barang siapa yang berdo’a kepadaKu, pasti Saya
menyambutnya, sebagaimana menyambutmu. Hai anak Adam, Saya mengumpulkan
orang-orang yang bertaubat dari kubur mereka dalam keadaan gembira
dan tertawa kepadaKu. Doa mereka terkabulkan”.
Pernah seorang
laki-laki datang ke rumah Rabi’ah Al ‘Adawiyah RA, dia mengadukan
perbuatan-perbuatan buruknya, “sesungguhnya saya banyak berbuat dosa dan
maksiyat. Kalau saya taubat apakah Allah akan menerima saya ?”
“Tidak ! bahkan
seandainya Dia menerimamu, pasti saya bertaubat”.
Ketahuilah
sesungguhnya Allah berfirman, “InnaLlaaha yuhibbuttawwabiina wayuhibbul
mutathahhiriin”yang artinya, “Sesungguhnya Allah mencinati orang-orang yang bertaubat
dan orang-orang yang mensucikan dirinya”. (QS. Al-Baqarah 222)
Barang siapa
yang mendekati tempart yang menggelincirkan maka jelas itu kesalahannya
sendiri. Jika taubat, maka diterimanya masih meragukan. Apalagi jika syarat dan
haknya merupakan hak bagi kecintaan Al-Haq. Seseorang yang melakukan
maksiyat sehingga di dalam sifat-sifatnya ditemukan tanda-tanda kecintaannya
kepada Allah semakin menjauh, maka dia wajib taubat dan terus
menerus menghancukan kemaksiyatan dengan disertai istighfar dan
pembebasan diri dari dosa. “Sesungguhnya ketakutan itu mengingatkan
kepada kematian”, kata ahli sufi. Karfena itu benar sekali jika Allah
berfirman, “Qul Inkuntum tuhibbunaLlaaha fattabi’uuNy
yuhbibkumuLlaah”. Yang artinya, “Katakanlah jika kamu sekalian mencintai
Allah, maka ikutilah aku (Nabi), dengan demikian maka Allah akan
mencintaimu”. (QS. Ali Imran 31)
Diantara proses
ritual perjalanan taubat Nabi SAW adalah melanggengkan Istighfar.
RasuluLlah SAW bersabda, “Innahuu layughaanu ‘alaa qalByy, fa AstaghfiruLlaaha
fil yaumi sab’iina marrah” Yang artinya, “sesungguhnya Dia mmenutupi
hatiku, maka Saya memohon ampun kepada Allah 70 kali dalam sehari”.
Yahya bin Muadz
mengatakan, “Tergelincir sekali setelah taubat lebih buruk
daripada istighfar 70 kali sebelumnya”.
Menurut
keterangan Abu Utsman tentang fiman Allah, “Inna ilaiNaa iyaabahum” yang
artinya, “sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali”. (QS. Al-Ghaatsiyah
25)
Ayat ini
menunjukkan arti “pengembalian mereka” meski mereka telah berkali-kali keliling
dalam penentangan.
Syaikh Abul
Qasim Al Qusyairi berkata, “saya juga pernah mendengar Abu Amr Al-Anmathi
bercerita, “seorang menteri yang bernama Ali bin Isa sedang menunggang kuda
kebesarannya dalam arak-arakan yang sangat megah. Pawai ini sempat membuat
masyarakat terkagum-kagum. Mereka bertanya-tanya siapakah gerangan mereka itu ?
Tiba-tiba seorang wanita yang sedang berdiri di pinggir jalanan pawai
menyeletuk, ‘sampai kapan kalian mengatakan engan bertanya-tanya siapakah dia,
siapakah dia ? Dia adalah hamba yang terjatuh dari pandangan Allah dan Allah
mengujinya dengan sesuatu yang kalian saksikan itu’. Rupanya Ali mendengar
sindiran itu. Dia langsung kembali pulang, kemudian mengundurkan diri dari
jabatan menteri dan pergi ke Makah untuk tinggal di sana.”
Sumber: manakib.wordpress.com
Posting Komentar
Posting Komentar