Menu

TQN PP.Suryalaya

 




Allah Swt. menciptakan akal dan nafsu kemudian memerintahkan keduanya untuk menghadap. Akal ditanya oleh Allah Swt. :"Man ana wa man anta?" (Siapa aku dan siapa kamu). Akal menjawab : "Allaahu robbi". (Allah Tuhanku Yang Maha Gagah Perkasa sedangkan aku hanya ciptaan-Mu yang lemah dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan izin-Mu). Jawaban ini merupakan sikap tawadhu dari akal. Berbeda dengan nafsu ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh Allah, Man ana wa man anta? Jawaban nafsu adalah : Ana, ana. Anta, anta. (Aku adalah aku dan engkau adalah engkau). Jawaban ini merupakan sebuah sikap takabur (kesombongan) dan egoistis dari sang nafsu.
Mendengar jawaban dari nafsu seperti itu, maka Allah mengirimkannya kedalam dua lautan yaitu lautan lapar (bahru ju') dan lautan dzikir (bahru dzikri) lamanya 100 tahun (dalam riwayat lain ada yang menyebutkan 1000 tahun). Ketika dikeluarkan dari lautan lapar, nafsu masih menjawab dengan jawaban yang sama akhirnya Allah mengirimkannya kedalam lautan dzikir. Setelah itu barulah nafsu mengakui dan tunduk kepada Allah. Pada bulan Ramadhan ini, kita dilatih untuk menahan haus, menahan lapar, menahan kantuk, menahan pandangan dan hal-hal lainnya yang membatalkan puasa. Disamping itu, pada malam harinya kita jadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat-shalat sunat dan dzikir. Sehingga diharapkan nafsu kita yang jelek (nafsu amarah) bisa dikendalikan, bisa ditundukkan. Dzikir yang dapat menundukkan nafsu tersebut adalah dzikir yang ditanamkan oleh seorang Guru Mursyid yaitu dzikir Jahar dan dzikir Khofi. Mudah-mudahan pada bulan ramadhan ini kita bisa memanfaatkan semua waktunya untuk beribadah kepada Allah. Karena untuk itulah manusia diciptakan.
Manusia itu dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah milik Allah yaitu ruhnya. Apabila ruh sudah dipanggil oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya. Bagian kedua adalah milik manusia itu sendiri. Apabila ia berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali kepada dirinya. Sebaliknya, jika ia berbuat jahat maka kejahatan itu akan kembali kepada dirinya. Dan yang terakhir, manusia itu milik belatung. Badannya apabila ia sudah mati di dalam kubur, maka akan dimakan oleh belatung kecuali badan atau jasmaninya orang-orang yang selalu dzikir kepada Allah sehingga iman dan taqwanya menjadi pelindung dirinya.

Sumber: website PP.Suryalaya

Posting Komentar

 
Top