Abu
Hafs berkata, “Takut itu seperti lampu hati yang dapat ,menunjukkan kebaikan
dan keburukan.” Utstadz Abu Aly Ad-Daqaq berkata, “Yang dimaksud takut adalah
keadaan diri yang tidak menginginkan sebuah harapan dan keterlambatan”. Abu
Umar Ad-Dimasyqy berkata, yang dimaksud takut adalah orang yang lebih takut
kepada dirinya sendiri dari pada takut kepada setan”.
Menurut
Ibnu Al-jalla’, “Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang aman dari
berbagai hal yang menakutkan”. Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang
takut adalah bukan orang yang menangis dan mengusap kedua matanya, tetapi yang
meninggalkan sesuatu karena takut disiksa”. Ibnu Iyadh telah ditanya oleh
seseorang, “Mengapa saya tidak pernah melihat oarng yang takut kepada Allah SWT
?” Dia menjawab,”Jika engkau takut kepada Allah SWT maka engkau akan melihat
orang yang takut kepadaNya. Karena tidak ada orang yang dapat melihat orang
yang takut kepada Allah SWT kecuali orang yang takut kepadanya. Sama halnya
perempuan yang kehilangan anaknya akan melihat perempuan lain yang juga
kehilangan anaknya”.
Yahya
bin Mu’adz berpendapat, keturunan Adam yang miskin seandainya takut kepada api
neraka sebagaimana ia takut kepada kefakiran, maka dia akan masuk surga.
Menurut Syah Al-Karmani, indikasi orang yang takut kepada Allah SWT adalah
orang yang selalu susah . sedangkan menurut Abdul Qasim AL-Hakim, orang yang
takut akan sesuatu maka ia akan lari darinya. Sedangkan orang yang takut kepada
Allah SWT maka ia akan lari kepadaNya”.
Dzun
nuun telah ditanya, “Kapan bagi seorang hamba menemukan jalan takut kepada
Allah SWT ?” Dia menjawab, “Apabila ia menempatkan dirinya pada posisi sakit
maka ia akan menjauhkan diri dari segala hal karena sakitnya terus bertambah”.
Menurut Mu’adz bin Jabbal, hati dan ketampanan wajah orang mu’min tidak akan
tenteram dan tenang sebelum ia mampu meninggalkan titian neraka jahanam di
belakangnya. Sedangkan menurut Bisyr Al-Hafy, takut kepada Allah SWT bagaikan
harta milik yang tidak mempunyai tempat kecuali di hati orang bertaqwa. Abu
Utsman Al-Hariri mengatakan, “Cacatnya orang yang takut terletak pada
ketakutannya”. Al-Washity juga mengatakan, “Takut merupakan penghalang antara
Allah SWT dan hambaNya”. Pernyataan ini mengandung kemusykilan, artinya orang
yang takut kepada Allah SWT akan mengetahui waktu yang ke dua. bentuk-bentuk
waktu tidak akan diketahui untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu
kebaikan orang-orang yang baik merupakan keburukan bagi orang-orang yang dekat
kepada Allah SWT.
Saya
(Syaikh Al-Imam Al-Qusyairi) pernah mendengar Ahmad Ats-Tsauri mengatakan,
“Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang lari dari Tuhan menuju Tuhan.
Sebagaimana ulama berpendapat, indikasi takut adalah bingung dengan cara yang
samar. ” Al-Junaid pernah ditanya tentang takut lalu beliau emnjawab, “Jatuhnya
siksaan melalui sa,uran nafas”. Abu Sulaiman Ad-Daarani
menyatakan, “Takut tidak akan mampu menceraikan hati kecuali keruntuhan”. Abu
Utsman juga berkata bahwa kebenaran takut adalah meninggalkan perbuatan dosa
baik lahir maupun bathin. Menurut Dzunun Al-Mishri, Manusia akan tetap di
tengah jalan selagi ia takut. apabila ia tidak takut kepada Allah SWT maka ia
akan sesat. Sedangkan menurut Hatim Al-Asham, tiap sesuatu mempunyai
hiasan. Hiasan ibadah adalah takut , sedangkan indikasi takut adalah
memperkecil keinginan. Suatu saat seorang laki-laki bertanya kepada Bisyr
Al-Hafi , “Saya pernah memperlihatkan takut mati”. Dan Bisyr menjawab, “Datang
kepada Allah SWT sangat penting”.
InsyaAllah
bersambung ke Bagian III
Sumber: manakib.wordpress.com
Posting Komentar
Posting Komentar